PLURALISME

1.Moral dan Politik dalam Pluralisme Agama

Pendahuluan

Sejarah agama di dunia, Lembarannya bukan saja diisi dengan kisah – kisah indah tapi juga diisi dengan kisah – kisah penderitaan dengan siksaan yang diakibatkan oleh fanatisme. Pada umumnya agama berkhidmat pada rezim penguasa dalam membasmi akidah kaum tertentu. Hal ini bisa kita saksikan apa yang dilakukan oleh kristen eropa terhadap penduduk asli Amerika. lahirnya gagasan liberalisme politik yang begitu cepat diabad 17 seiring dengan kritikan terhadap fanatisme mazhab pada masa itu yang dilakukan oleh kaum reformis agama.

Liberalisme adalah sebuah antitesa politik terhadap keragaman dan perbedaan keyakinan – keyakinan dalam masyarakat kristen. Di akhir abad 19, ‘ Mormon ‘ adalah salah satu mazhab kristen yang di bid’ahkan bahkan di anggap sesat. Presiden Amerika Serikat pada saat itu Cleveland Grover ( 1837 – 1908 ) termasuk yang menbidahkan mazhab tersebut. Hal ini menunjukkan sebuah fakta bahwa pada abad 19 pun gagasan liberalisme tidak meliputi seluruh mazhab dalam kristen, bahkan tidak sedikitnya mendapat gelar murtad.

Diabad ke 20 prinsip liberalisme hijrah ke agama dan keyakinan lainnya. Pada awalnya gagasan liberal ini gagal membunuh fanatisme agama. Kegagalannya disebabkan oleh munculnya Yahudi radikal yang dibangun berdasarkan fasisme. Akan tetapi lambat laun sejalan dengan berkembangnya waktu, fasisme dikalahkan oleh liberalisme. Kemenangan liberalisme ini menyebabkan mereka berhak memasukkan gagasan liberalisme agama dalam perundang – undangan hak – hak asasi manusia. Akan tetapi walaupun demikian, gereja – gereja katolik diseluruh dunia tetap saja menganggap bahwa orang – orang yahudilah yang membunuh Yesus. Pada saat itu kaum Yahudi di laknat di gereja – gereja. Nanti pada tahun 1960 Vatikan menghapus kata “Yahudi Pengkhianat “ dalam undang – undang mereka pada kongres ke dua. Kami sengaja memulai pembahasan ini dengan mengungkapkan fakta diatas yang berkenaan dengan fanatisme agama dan liberalisme, agar kita lebih mudah memahami pluralisme agama.

Pluralisme Agama

Pluralisme agama merupakan hasil dan usaha dalam teologi Kristen dalam mendudukkan posisi agama selain agama Kristen. Boleh dikata usaha ini diilhami oleh modernisme atau liberalisme agama. Tapi ada satu hal yang perlu kami ingatkan bahwa boleh jadi ada faktor – faktor lain yang memunculkan liberalisme agama. Bagi kami tidak begitu penting untuk membahasnya secara tuntas, hal yang lebih penting adalah mengungkapkan teologi mereka yang memiliki cacat dan kekurangan. Tentunya kekurangan ini berbubungan dengan filsafat politik liberal mereka yang tidak luput dari kekurangan. Untuk memahami lebih jauh, ada baiknya jika kita memahami terlebih dahulu secara garis besar perkembangan sejarah dan prinsip – prinsip pemikiran liberalisme agama dan politik. Kemudian kami akan mengeritik pemikiran teologi John Hick sebagai tokoh yang secara tegas mendukung pluralisme agama.

Hubungan Liberalisme Agama dan Politik

Walaupun liberalisme agama dan liberalisme politik memiliki hubungan sejarah dan intelektual yang sangat mendalam, namun jangan sampai kita terjebak pada kedua jenis liberalisme tersebut. Kata liberalisme pada mulanya digunakan sebagai sebuah idiom ideologi politik di eropa di akhir abad 19. Pada saat dan tempat yang sama muncul sebuah gerakan baru yang dibawa oleh Schleier Macher ( 1834 – 1868 ). Gerakan tersebut adalah dikenal sebagai gerakan “ protestanisme liberal “. Namun, walaupun terdapat protestan – protestan liberal namun dari sisi politik mereka tidak liberal. Begitupun sebaliknya, terdapat liberal – lilberal politik namun mereka tidak diilhami oleh liberalisme agama. Walaupun demikian, pada umumnya liberal agama dan liberal politik memiliki pendekatan yang sama dalam memposisikan akhlak, sosial dan politik.

Definisi Liberalisme Politik

Menurut Legenhausen walaupun definisi liberalisme politik sebagai sebuah ideologi politik bukanlah sebuah definisi yang tepat. Namun, seluruh gerakan liberal mementingkan toleransi, hak – hak, kebebasan individu dalam menopang pluralisme dalam kehidupan masyarakat. Tokoh yang berpengaruh dalam wacana ini adalah Adam Smith ( 1723 – 1790 ), Thomad Paine ( 1737 – 1809 ), Benjamin Constant ( 1767 – 1830 ), James Madeson ( 1751 – 1836 ). Dan bangunan filsafatnya diusung oleh Jhon Stuart Mill (1806 – 1873 ), Thomas Hobbes ( 1588 – 1679 ), Jhon Locke ( 1634 – 1704 ), Immanuel Kant ( 1724 – 1804 ). Mereka semua adalah orang – orang yang terpengaruh oleh pemikiran liberalisme. Bahkan, jika kita meragukan Lock dan Kant sebagai Tokoh Liberalis, tentunya kita akan meragukan Hobbes sebagai seorang liberalis. Jhon Rawles adalah filosof kontemporer saat ini yang banyak menulis tentang liberalisme dan disebut sebagai tokoh liberalisme saat ini.

Akar dan Konten Liberalisme

Sebagian besar orang liberal meyakini bahwa liberalisme harus ditancapkan akarnya sampai pada wilayah agama. Langkah pertama, kita harus mendapatkan kebebasan intuitif dan kesadaran batiniyah dalam agama, barulah kemudian kita perluas wilayahnya pada seluruh fakultas akidah dan pengetahuan. Oleh karena itu, toleransi terhadap akidah – akidah yang beragam dalam agama didasarkan pada liberalisme politik. Pluralisme agama adalah salah satu solusi yang ditawarkan dalam teologi untuk menjawab keragaman akidah tersebut. Solusi ini sebenarnya sudah ada sejak dahulu. Pembagian yang jelas antara perkara publik dan privasi adalah salah satu karekteristik dari liberalisme politik. Sekularisme atau pemisahan antara politik dan agama adalah salah satu produksi dari pembagian secara liberal antara wilayah publik dan wilayah privasi. Diantara hak – hak yang paling terjaga wilayah privasinya adalah kebebasan berakidah khususnya akidah agama. Kebebasan ini secara perlahan berubah menjadi kebebasan berpendapat.

Untuk menjaga kebebasan individu yang lebih luas. Pemerintah bersama perangkatnya seperti undang – undang, demokrasi dan ekonomi pasar, secara bersama – sama harus bermuara pada kebebasan individu. Utilitarianisme adalah dasar filosofis dalam membangun wajah liberalisme pada abad 19. Namun dalam liberalisme modern wilayah pemerintah dipersempit. Peran pemerintah sangat kecil, hingga muncul sosialisme liberal yang memberikan banyak peran pada pemerintah. Tapi kaum liberal ini yang paling getot dalam memperjuangkan hak – haknya, dalam prakteknya memberikan ruang lebih khusus pada pria eropa berkulit putih. Untuk memperluas wilayah hak – hak mereka ke seluruh dunia, kaum liberal ini membangkitkan gerakan dan wacana seperti menghapus perbudakan, perbaikan penjara – penjara, kebebasan homoseksual, hak – hak kaum minoritas dll.

Dipertangahan abad 20, muncul sebuah pahaman liberalisme yang berdasarkan pada “ Welfare – State Liberalisme. Liberalisme ini berpandangan bahwa pemerintah harus mendukung segala bentuk hak persamaan. Rawles menyebutkan sifat liberalisme ini dengan “ mendahulukan prinsip keadilan dari pada prinsip kebaikan “. Menurutnya ; prinsip keadilan adalah memberikan seluas – luasnya hak individu untuk mencapai tujuannya dan seminimal mungkin tidak boleh ada pihak yang membantunya ; dalam artian bahwa para penentu keadilan tidak berhak untuk mengontrol lebih jauh sehingga masyarakat dibatasi untuk sampai pada tujuannya. Inilah prinsip yang sangat penting. Disisi lain, pandangan lain meyakini bahwa prinsip keadilan adalah bagian dari kebaikan, sebagaimana yang banyak dipahami oleh para penganut agama. Disinilah awal mula pertikaian antara konsep keadilan agama dan konsep keadilan liberal. Dalam mengadili pertikaian ini, kaum liberal seharusnya bersifat netral. Namun mereka justru bangkit dengan fanatisme liberalnya. Oleh Karena itu, keadilan yang mereka perjuangkan adalah keadilan yang berpihak.

Dalam menjalankan konsep liberal ini. Seharusnya Amerika telah sampai pada kekuasaan yang merata pada seluruh masyarakat sebagaimana yang mereka perjuangkan. Namun dalam prakteknya tidak demikian halnya. Dahulu, pemerintah setempat dapat menetapkan undang – undang berdasarkan agama yang lebih banyak dianut oleh masyarakat umum dan pada saat yang sama mereka tidak meresmikan agama lain untuk hidup. Pelarangan menggunakan alkohol di kota – kota tertentu menunjukkan asumsi praktek agama telah menjadi hukum madani ( civil law ) Amerika. Pertikaian antara hak – hak sosial dan individu di Amerika memiliki sejarah panjang dan tak jarang menumpahkan darah. Berdasarkan tapak sejarah telah mengantarkan kita pada sebuah hakikat bahwa buah dari liberalisme yang senantiasa menunjukkan paradoks dan terkadang kontradiksi dalam prakteknya adalah kekalahan dalam membangun masyarakat independen. Gerakan untuk memberikan kebebasan individu seluas – luasnya adalah sebuah gerakan dari pihak pusat pemerintah untuk membatasi kekuatan penegakan hukum – hukum sosial budaya pribumi setempat.

Karekteristik Protestanisme Liberal

Kita bisa mendefinisikan Protestanisme liberal berdasarkan ciri – ciri sebagai berikut ;

1. Menerima penafsiran – penafsiran ‘ unortodoks ‘ dari kitab Injil, khususnya penafsiran yang berdasarkan hasil penelitian sejarah dan sience.

2. Meragukan hasil analisis akal dalam teologi

3. Menegaskan sebuah doktrin bahwa dasar dan inti agama adalah pengalaman agama individu seseorang, bukan akidah, bukan hukum – hukum syariat, bukan masyrakat agama dan bukan ritual ibadah.

4. Agama harus mendukung prinsip – prinsip akhlak modern dan reformasi sosial dan hal – hal yang sejalan dengan prinsip tersebut.

Terkadang kita menyatukan antara liberalisme agama dengan modernisme. Tapi lebih baik kita mengatakan bahwa Protestanisme liberal dipengaruhi oleh modernisme. Modernisme adalah sebuah istilah yang digunakan untuk seluruh gerakan – gerakan reformis yang menginginkan kebutuhan agama disesuaikan dan sejalan dengan fakta – fakta dunia modern.

Defenisi dan Karekteristik Pluralisme Agama

Berdasarkan dengan apa yang telah kami kemukakan sebelumnya diatas. Kita bisa mendefinisikan pluralisme agama sebagai berikut bahwa pluralisme agama adalah buah dan kesimpulan dari Protestanisme liberal yang memiliki ciri sebagai berikut ;

1. Memberikan penafsiran – penafsiran unortodoks terhadap akidah – akidah dan kitab Injil agar supaya keselamatan bisa didapatkan melalui jalan – jalan lain selain agama Kristen. Oleh karena itu, keselamatan bisa didapatkan di tempat lain.

2. Meragukan argumentasi – argumentasi rasional yang menjelaskan akan keunggulan agama Kristen dan akidah Kristen.

3. Berpegang pada prinsip akhlak modern mengenai toleransi dan mengeritik fanatisme.

4. Menegaskan prinsip universal dalam keimanan seseorang, khususnya kecendrungan kepada kebenaran intuitif yang transenden. Kemudian hal – hal yang berkaitan praktek – praktek ibadah dan ritual – ritual lahiriah adalah perkara yang sekunder.

Pluralisme agama adalah sebuah gerakan dalam teologi Kristen yang kemunculannya diawali dengan gerakan liberalisme politik, dimana liberalisme politik secara langsung diilhami oleh Protestanisme liberal. Dalam kata lain, Protestanisme melahirkan liberalisme politik dan liberalisme politik melahirkan pluralisme agama. Pluralisme mendapatkan kritikan serius oleh penganut Kristen Ortodoks dan para pemikir postmodernite.

Postmodernisme

Postmodernisme memiliki banyak pengikut di Eropa, sebagian besar pengikutnya dari Perancis. Namun bisa kita temukan juga pengikutnya di Amerika. Sebagian dari prinsip universal mereka adalah ;

1. Kenisbian Akhlak sebagai salah satu mainstream mereka. Menurutnya ; mereka yang melakukan perbuatan baik, sebenarnya memiliki tujuan yang tersembunyi seperti kudrat atau kekuasaan. Mereka meragukan akan niat baik seseorang. Freud mendapatkan nafas baru dalam wacana ini.

2. Teori atau gagasan tertentu senantiasa berhubungan dengan budaya. Hal ini menjadi kritikan khusus pada modernisme. Menurut kaum modernis, manusia bisa menilai budaya, sejarah, filsafat dan bahasa secara objektif. Namun menurut postmodernisme, manusia tidak bisa menilai secara objektif karena dia terikat oleh budaya, tradisi, bahasa mereka masing – masing. Oleh karena itu, tidak bisa kita katakan “ budaya manakah yang paling baik “.

3. Penafsiran senantiasa didasari oleh asumsi.

Mereka mengungkapkan sendiri bahwa kritikan kaum intelektual dan Kristen ortodoks terhadap modernisme dalam banyak hal berhubungan dengan pluralisme agama. Ala kulli hal, kekurangan yang dimiliki baik liberalisme politik maupun pluralisme agama, akan lebih Nampak jika kita bandingkan dengan pandangan Islam. Karena pemisahan secara liberal antara agama dan sistem sosial didasarkan pada sebuah asumsi bahwa pemisahan ini berlaku dan sesuai pada seluruh golongan, padahal pemisahan ini bertentangan dengan tujuan – tujuan Islam. Untuk menjelaskan lebih jauh mengenai pluralisme, kami akan menjelaskan gagasan pluralisme agama yang diangkat oleh John Hick sebagai sebagai tokoh yang pertama kali menggagas teori tersebut.

Pandangan Hick tentang Pluralisme

John Hick mendefinisikan pluralisme agama sebagai berikut ; pluralisme agama adalah ajaran keselamatan yang bertentangan dengan dua pandangan teologi Kristen yang lain. Kedua pandangan tersebut menurut Hick adalah eksklusivisme dan inklusivisme. Dalam kata lain, masalah ini bermula dari persoalan ; “ siapakah yang berhak menentukan seseorang masuk surga ? “. Eksklusivisme meyakini bahwa hanya agama yang diterima oleh Tuhan yang berhak masuk surga. Hanya satu tempat pertolongan yaitu pada agama Kristen. Berbeda dengan Eksklusivisme, Inklusivisme lebih sedikit membuka pintu sorga bagi manusia. Mereka mengatakan seseorang bisa saja masuk sorga walaupun mereka tidak memeluk agama Kristen, dengan syarat mereka berakhlak dan hidup benar sebagaimana yang diajarkan oleh Yesus. Mereka menyebut Karl Rahner ( 1904 – 1984 ) sebagai orang – orang Kristen tanpa nama. Tapi pluralisme Hick melampaui kedua gagasan sebelumnya. Hick meyakini bahwa setiap orang bisa saja masuk sorga, tak peduli budaya, ras, warna serta akidahnya, tapi dengan syarat ; melalui salah satu agama dia harus bisa keluar dari keegoisannya menuju realitas eksternal diluar dirinya. Bahkan teori Hick bisa menerima bahwa komunisme adalah jalan keselamatan bagi sebagian orang. Minimal, Hick tidak menyanggah anggapan diatas.

Jalan keselamatan

Pembahasan tentang ajaran keselamatan menurut akidah protestan adalah pembahasan yang berkaitan dengan keimanan. Tapi bagi Katolik harus ditegaskan dengan ritual. Walaupun boleh jadi ada pengecualian. Dalam pandangan katolik, keselamatan adalah tujuan akhir manusia karena di surgalah manusia akan bertemu dengan Tuhannya. Tebusan adalah membebaskan manusia dari dosa dan menjalin kembali cinta dengan Tuhan melalui derita dan kematian Yesus sebagai jelmaan Tuhan. Siapa saja yang ikut dalam tebusan ini melalui ritual ibadah maka ia akan mendapatkan rahmat Tuhan. Dalam katolik ada tiga jenis pemandian suci ;

1. Pemandian suci dengan air ; caranya dengan menyiramkan air keatas kepala orang yang dimandikan, dengan mengucapkan kalimat sebagai berikut ; “ saya memandikanmu atas nama Bapak, Anak dan Ruhul Qudus “.

2. Pemandian suci dengan iradah dan keinginan ; pemandian ini dikhususkan bagi mereka yang telah berumur dewasa dan berkeinginan untuk masuk Gereja Katolik.

3. Pemandian dengan darah dan pengorbanan bagi mereka yang rela mengorbankan dirinya demi kehidupan Yesus.

Pandangan Hick tentang Keselamatan

Hick tidak begitu memberikan perhatian yang besar terhadap akidah Katolik. Mungkin karena dia adalah seorang pastor dari salah satu mazhab protestan yang disebut dengan Presbyterian. Hick adalah seorang filosof dan juga memiliki banyak aktivitas dalam persolan – persoalan masyarakat sosial liberal. Hick juga rajin menulis. Pada tahun 1967 ketika dia diberikan tanggung jawab untuk mengajarkan filsafat agama pada salah satu universitas, membuat dia dekat dengan berbagai kalangan, baik Muslim, Yahudi, hindu dll. Selain dari pada itu, dia juga aktif dalam gerakan anti ras sehingga masyarakat menggolongkan dia ke dalam masyarakat pluralisme agama.

Dalam pandangan Hick, keselamatan adalah sebuah titik perubahan manusia dimana pada perubahan tersebut manusia memusatkan perhatian “ dari dirinya “ menuju realitas akhir. Realitas akhir tersebut disebut dengan Tuhan, Brahman, Nirwana ataupun Tao. Jika ini yang dimaknai Hick dengan keselamatan maka pengaruh Yesus dan inkarnasi yang dipahami dalam agama Kristen tidak akan bertahan lama. Berdasarkan pandangan ini, Yesus hanya sebagai perantara diantara perantara – perantara lainnya, yaitu perantara yang mengantarkan perubahan manusia “ dari dirinya “ menuju “ realitas akhir “. Hick tidak ragu dan malu atas konsekwensi dari pemikirannya. Gagasan Hick yang paling kontroversi dalam teologi Kristen berkenaan dengan “ mitos inkarnasi Tuhan “. Hick dalam hal ini tidak ingin mengingkari ajaran tersebut, tapi dia ingin memberikan penafsiran lain yang sesuai dengan degree-christologies. Hick meyakini bahwa setiap orang bisa saja menjadi inkarnasi Tuhan selama kehidupan orang tersebut sesuai dengan iradah Tuhan. Pandangan Hick berbeda jauh dengan pandangan teolog Kristen lainnya dan sangat dekat dengan konsep tajalli.

Dasar Pluralisme Hick

Pluralisme agama Hick dan karya neo teologi agama Kristen yang dicetuskan olehnya, dimana di satu sisi dipengaruhi oleh aktivitas dia dalam kerja – kerja sosial. Sisi lain adalah hasil akumulasi pemikiran dia tentang rasionalitas keimanan agama. Persoalan rasionalitas keimanan agama merupakan subjek pembahasan yang paling hangat dibicarakan diabad 20. Sebagaimana filosof agama lainnya, Hick juga mengemukakan gagasannya tentang persoalan tersebut. Hick menyimpulkan bahwa pengalaman agama dapat menjustifikasi keimanan beragama. Hick meyakini bahwa mereka yang diberikan petunjuk melalui pengalaman beragama, pengalaman agama mereka dapat menjustifikasi keimanannya dan keimanan mereka terhadap realitas Ilahi menjadi rasional. Dasar persoalan keragaman agama bagi mereka adalah dikarenakan keimanan beragama yang disandarkan pada pengalaman agama. Hal tersebut terlihat jelas pada karya dan penafsiran mereka terhadap agama. Hick dalam bukunya An Interpretation of religion menjelaskan bahwa ; “ jika hanya ada satu tradisi agama, tentunya seluruh pengalaman – pengalaman dan akidah – akidah agama memiliki subjek yang sama dan pembahasan epistemologi agama akan berakhir disini. Namun pada realitasnya kita menyaksikan agama dan tradisi yang berbeda – beda “.

Persoalan Pluralisme Hick

Sebagian besar kritikan kepada Hick dikarenakan ketidakrelaan mereka akan gagasan Hick yang mengatakan bahwa ; “ realitas akhir tidak mungkin dijelaskan dan disifatkan “. Jika kita tidak dapat menjelaskan sesuatu apapun tentang Tuhan atau realitas akhir maka keyakinan agama kita sangat mirip dengan kafir dan tidak bisa dibedakan dengan ateis.

Persoalan lain yang dihadapi pluralisme Hick adalah bahwa dia hanya membatasi agama pada akidah semata, padahal sebagaimana kita ketahui agama bukan hanya akidah tapi juga memiliki ritual yang merupakan sisi penting lain dari agama. Jika kita menganggap Hick dapat memberikan jalan keluar dengan menghilangkan kontradiksi pada akidah diantara agama – agama, namun dari sisi ritual atau praktek agama kontradiksi tersebut tidak mungkin dihilangkan.

Hick tidak menerima bahwa keyakinan agama memiliki perbedaan yang hakiki. Walaupun Budha dan Hindu dalam akidahnya mengingkari realitas akhir dan agama Ilahi berkeras mengakuinya, namun dalam pandangan Hick keduanya tidak memiliki perbedaan yang hakiki. Masing – masing beranjak menuju hakikat menurut jalannya sendiri – sendiri. Namun pembahasan ini tetap tidak menjawab persoalan kontradiksi yang ada dalam akidah agama – agama.

Kritik atas Pluralisme Hick

Kesimpulan kritikan kami sebagai berikut ;

1. Hick mencoba untuk menghilangkan kontradiksi dan perbedaan yang ada pada agama – agama dengan cara meragukan sebagian keyakinan agama dan bahkan menafikannya.

2. Dalam pluralisme Hick hanya bertumpu pada perbedaan dan kontradiksi yang terlihat secara lahiriyah atau dipermukaan, namun ia lalai dalam perbedaan dan kontradiksi yang ada dalam praktek agama seperti ritual dan ibadah. Oleh karena itu, Hick tidak peduli akan masyarakat agama dan pentingnya hukum – hukum agama.

3. Hick melemahkan hukum – hukum agama dan kekuatan ritual agama, dengan akidah – akidah dalam agama.

4. Dalam pandangan pluralisme Hick, akal argumentasi tidak mendapatkan peranan penting sebagai perantara dalam membedah pemahaman agama dan dalam menganalisa perbedaan dan kontradiksi yang ada pada agama.

5. Pluralisme Hick menjadikan mistisisme sebagai perantara untuk sampai pada pengalaman agama dan kemudian mencobab menafsirkan keyakinan dan akidah berdasarkan pengalaman tersebut. Konsep pengalaman agama ini diciptakan oleh Protestanisme liberal dan konsep ini asing dalam Islam.

6. Akhlak liberalisme politik tidak sesuai dengan tradisi – tradisi akhlak agama dunia khusunya Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: