Marx, Sartre dan Downset

Oleh : Ucok “Aral” (pocketfull_of@fatcaps.zzn.com)
Illusion is all up in you, alternative must be more than this
Biological? Chemical? Science says I’m pure physical
Lower me to equality of dust with no destiny, molecular structure
If this is all that I be, then humans weren’t killed in the holocaust,
They were just machines, reject void supplement, man=rag equivalence.
Humanity is more than a complex form of existance
No reliance on science – I cry soul defiance!
Dying of thirst – I am more than mathematical equation

I am more than a chemical combination

My existence cannot be reduced to scientific theory!

Dying Of Thirst, Downset

Yang paling mengganggu tentang Marx sebenarnya bukan pada hujatan nya pada agama yang bisa dilihat pada kondisi objektif saat itu bahwa agama memang dipakai untuk mengilusi – istilah Marx – kekuatan “proletariat”. Namun setelah teorinya tentang kediktatoran proletariat, adalah sesuatu yang menyesakkan untuk bisa menyepakati klaim Marx bahwa sosialisme nya adalah “sosialisme ilmiah”.
Sampai titik kesimpulan bahwa dunia bisa dirubah, disepakati oleh banyak pihak, Marx memang mendapatkan poin disitu. “Man makes his own history”, manusia membuat perjalanan sejarahnya sendiri, ia dapat merubah alam sekitarnya sedemikian rupa agar ia dapat hidup. Ia menyatakan bahwa diperlukan dasar matrealis atas penulisan sejarah dimana pada saat itu ia pun “menemukan” cara membaca sejarah berdasarkan pengetahuan tentang hukum-hukum objektif perkembangan masyarakat. Sebagai seorang analis perkembangan sejarah Marx diakui sangat berpengaruh. Sebelum teorinya muncul, sejarah yang terbaca didunia adalah sejarah yang menari dengan irama ide-ide belaka, yang dipimpin oleh para “orang-orang besar”, para tokoh. Materialisme Marx memberikan cara memandang baru, membelokkan perhatian kita kepada peranan vital “kepentingan ekonomi” yang mendasari perkembangan sejarah dan membentuk prilaku manusia. Terlebih kritiknya atas masyarakat borjuis yang tidak adil dianggap sangat mengagumkan. Jika memang diperlukan pencatatan maka, sekali lagi, memang diakui oleh banyak pihak sejarawan dan ahli ekonomi, ini muncul kepermukaan, sebagai sebuah pandangan, dikarenakan oleh Marx.

Namun distu pulalah letak kehampaan pandangan Marx tentang sejarah. Sejarah dalam pandangan Marx terlihat menjadi begitu determenistik. Kepastian “ujung” sejarah didepan nampaknya sudah dapat terlihat dengan gampangnya dengan memakai metoda membaca gerak perkembangan masyarakat. Dengan pandangan ini pula Marx menyatakan bahwa komunisme bukan keadaan yang hanya harus diciptakan namun terlebih karena ia adalah cita-cita yang harus diikuti oleh kenyataan, …wow. Dan tak heran jika para marxis ortodoks begitu dogmatisnya memegang prinsip ini karena memang pandangan Marx tentang sejarah ini ditelan habis-habisan tanpa telaah/kritik sedikitpun, mereka tak mau mengakui ketidak-absolutan pandangan ini meski didukung fakta/data “se-ilmiah” apapun padahal mereka menyatakan diri mereka para “sosialis ilmiah”.

“Pandangan surgawi” Marx bahwa dimasa depan sejarah akan terbentuk tatanan masyarakat yang sosialis menjadi alasan pembenaran bagi siapapun yang mengatasnamakan terbentuknya masyarakat tersebut. Lebih-lebih ia menjadi parodi usang ketika keruntuhan kapitalisme yang ia perkirakan tak kunjung datang. Begitu fleksibelnya kapitalisme, ia dapat beradaptasi dengan beragam tehnik dan wujud, bahkan dalam bentuk yang tak pernah diperkirakan oleh Marx sendiri (contoh; terbentuknya masyarakat konsumen dan kapitalisme “cyber”). Dan setelah ini, masih layakkah “utopia” Marx tadi dijadikan blueprint untuk masa depan? Layakkah untuk disebut ilmiah dan dijadikan pembenaran atas keyakinan akan sebuah kebenaran absolut? Betapa tidak “rock-n-roll” nya dunia, jika masa depan sudah ditentukan kepastiannya. Kepastian dunia akan kiamat memang didemistifikasi tapi diganti dengan kepastian masyarakat sosialis. Dan moral hari ini ditentukan oleh moral masa depan yang harus diikuti oleh siapapun yang hidup sebagai konsekuensi untuk tidak mati hari ini dan atas nama determenistik sejarah. Ahh…betapa tidak “rock-n-roll” nya dunia ini…

Begitulah ide Marx sehingga banyak yang bilang hari ini; sosialisme ilmiah sudah mati. Meskipun ada yang menyangkal bahwa kebrutalan dan ketidakmampuan ekonomi para rejim komunis disebabkan oleh ide Marx biar bagaimanapun teori “kediktatoran proletariat” dan determenistik sejarahnya-lah yang menyebabkan kemunculan setan-setan pembenaran seperti Mao, Stalin dan kawan-kawan.
Hari ini saya menemukan lagi kaset Downset lama saya yang setelah beberapa tahun nyangkut didalam wadah kaset “Megahit 10” milik adik saya. Saya langsung beromantisme ke tahun 93-an, dulu saya pikir Downset meniru habis-habisan Rage Against The Machine, tapi ternyata tidak. Roy Z dkk. pernah membuat sebuah band bernama Social Justice yang merupakan cikal bakal Downset yang memang musiknya sudah nyerempet-nyerempet Downset sekarang. Dari liriknya pun agak jauh berbeda dengan RATM, ketika Zack dkk. lebih banyak terpengaruh marxis klasik dan mengaplikasikannya untuk menjelaskan masalah-masalah politik interest mereka seperti kasus Mummia, Peltier dan Zapatista, Downset lebih memfokuskan pada seruan emansipasi diri, dan seruan pemberontakan di ghetto-ghetto LA. Siapa diantara kita yang pernah melewatkan “Anger” single mereka pertama. Seperti halnya Urban Discipline-nya Biohazard, album debut Downset ini pernah menjadi anthem kita, diam-diam menyelusup sebagai bagian dari romantisme scene kita dulu.

Lagu terakhir dalam album tersebut, Dying Of Thirst, mengingatkan saya pada Sartre seorang dari mereka yang menolak determenistik dari keilmiahan hidup, Banyak yang memisahkan pandangan Marx awal dengan ide praksis politiknya. Sartre pun pernah sesak ketika ia kesulitan bernafas diantara marxis-marxis ortodoks. Ia menggabungkan ide awal Marx dengan eksistensialisme-nya yang terkenal itu. Lho? Gimana bisa? Bukankah dua itu bertentangan? satu sisi eksistensialisme menekankan kemerdekaan individu, free-will, dan keabsurdan/ ketidakbermaknaan hidup, satu sisi lain, Marxisme mengajarkan determinisme dan kolektivisme. Gimana bisa nyambung? Sartre memulainya dengan membedakan pandangannya dengan para “marxis pemalas” yang terlalu yakin dengan metoda analisis yang terlalu mekanis dan reduksi vulgar atas manusia yang hanya dilihat sebagai objek material yang dapat dianalisa dengan kacamata “ilmiah” gerak sejarah masyarakat.

Dying of Thirst adalah lagu pamungkas di album Downset ini. “My existence cannot be reduced to scientific theory!”, Roy Z berteriak ketika dia mulai muak dengan penolakan-penolakan marxis ortodox atas hak asasi manusia. Para marxis ortodoks menolak hal tersebut atas alasan istilah HAM lahir dari masyarakat borjuis (baca revolusi Prancis yang notabene memang revolusi-nya borjuis). Roy Z berkata bahwa meski memang HAM memang dijadikan alasan bagi ke-egoisan borjuis bukan berarti mereka seharusnya menolak esensi dari HAM tersebut. Dan nampaknya Dying of Thirst sangat mengingatkan saya pada usaha Sartre menjelaskan eksistensialismenya. Entah disadari atau tidak, dipengaruhi Sartre atau tidak, Roy telah menjelaskan apa yang dimaksud Sartre dahulu. Hanya sekarang hadir diantara rap yang brutal dan riff-riff ala Black Sabbath dengan meminjam groove hardcore. Downset mngingatkan saya kembali pada Sartre yang tetap meyakini bahwa man made his own history, bahkan ia berujar bahwa ide dasar Marx ini yang dilupakan para marxis ortodoks. Namun disitu pulalah kejelasannya; bahwa pada kenyataannya manusia memiliki otonomi dan pilihan sendiri sekaligus tanggung jawab penuh atas apa yang dilakukannya. Manusia bukan alat pasif dari dialektika sejarah. Ia bukan produk sejarah belaka. Disitu pula Sartre berkata bahwa para marxis ortodoks tersebut telah menjadikan materialisme historis menjadi suatu metoda yang dogmatis, formula “pasti”, yang memaksakan segala sesuatu menjadi bentuk-bentuk yang dapat dengan mudah diperkirakan.
Nampaknya pula terkadang sudah saatnya ide-ide lama diredefinisi, tata dunia baru memerlukan bentuk perlawanan baru, jangan biarkan dunia lama mendefinisikan apa yang kita lakukan hari ini; kita yang harus mendefinisikan dunia. Jangan berhenti di buku-buku “kiri” kalian, rekaman-rekaman koleksi kita bisa menjadi soundtrack nyata, hanya kita tak pernah menyadarinya saja. Ah, nampaknya tulisan ini kebablasan, sudah mulai nyerempet-nyerempet jadi seruan. Sudahlah, langsung cari lagi lagi saja Downset kalian…

Less Talk, More Rock !!!

Dying of Thirst – I am more than mathematical equation

I am more than a chemical combination…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: