KECEBONG-KECEBONG EDWARD DE BONO

KECEBONG-KECEBONG EDWARD DE BONO:

YANG DIPERLUKAN SAAT INI ADALAH KEGIATAN

MERANCANG, BUKAN MENGANALISIS DATA

Pengantar:
Sudah empat buku saya resensi di rubrik “Plong” ini. Pertama, buku J.K. Rowling, Harry Potter dan Kamar Rahasia. Kedua, buku Jeanne Segal, Melejitkan Kepekaan Emosional. Ketiga, buku Dryden dan Vos, The Learning Revolution. Dan keempat, buku karya Edward de Bono, New Thinking for the New Millennium, yang resensinya dimunculkan pada edisi “Plong” kali ini. Edward de Bono adalah satu dari sedikit orang yang pikirannya terus bekerja dan terus meninggi. Dilahirkan tahun 1933 di Malta, dia adalah sarjana kedokteran, yang memperoleh gelar kehormatan dalam psikologi dan fisiologi, serta gelar D.Phil. di bidang kedokteran dari Christ Church Oxford, dan kemudian meraih gelar Ph.D. dari Cambridge. Dia juga dosen di Universitas Oxford, London, Cambridge, dan Harvard.


Anda pernah mengenali secara cermat seekor kecebong? Warnanya gelap, tidak dapat dikatakan hitam. Suka bergerombol dan kalau berlarian tampak sekali gerakan ekornya yang dinamis. Kecebong atau cebong ini kadang diasosiasikan dengan anak katak.

Secara menarik, de Bono, dalam buku terbarunya, New Thinking for the New Millennium, menggunakan kecebong-kecebong ini untuk memvisualkan “pemikiran baru” yang diperlukan di milenium baru. Begitu saya membuka buku terbaru de Bono, yang merasuk cepat ke kepala saya adalah gambar-gambar kecebong. Kecebong itu seperti bergerak.

Kecebong itu seperti memiliki fleksibilitas untuk mengisi ruang-ruang alternatif. Dan lihatlah gambar ekor kecebong itu yang memiliki banyak lengkungan! Ia menyimbolkan dinamisnya pikiran. Ekor-ekor kecebong itu bak generator yang senantiasa mendorong dan memberikan energi kepada pikiran.

Tak seperti buku-buku karyanya yang lain, di New Thinking ini de Bono menuliskan gagasannya dalam format catatan harian. De Bono tak pernah lupa menuliskan tempat saat menemukan gagasan uniknya. Suatu ketika dia berada di sebuah hotel atau bandara. Lalu pada saat lain, dia berada di sebuah kota yang eksotis, dan seterusnya.

Bagi saya, buku New Thinking ini menunjukkan secara hebat karakter de Bono. Dalam setiap karyanya, de Bono senantiasa ingin para pembacanya tidak mengikuti apa yang diinginkannya. De Bono, menurut persepsi saya, hanya memberikan semacam jalan. Dan jalan itulah yang harus dikembangkan oleh para pembaca karyanya.

Apa karakter pemikiran de Bono? Berpikir lateral. Inilah sebuah istilah yang benar-benar meninju. Dan kecebong-kecebong de Bono, yang bergerak amat dinamis itu, menegaskan karakter tersebut. Setelah kita mengetahui karakter pemikiran de Bono dan sadar pula akan kehebatan berpikir lateral, lantas mau apa?

“Dalam menggunakan buku ini,” tulis Edward de Bono di “Prakata” buku-menariknya, Lateral Thinking (1970), “penting diingat bahwa praktik jauh lebih penting ketimbang sekadar memahami prosesnya.” Tentu saja, pesan-penting ini tak sebatas pada pembaca buku Lateral Thinking, melainkan juga untuk semua pembaca buku de Bono. Selamat menikmati kecebong-kecebong de Bono!***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: