Imam Ali Hadi An-Naqi as.

1. Barang siapa yang rendah ke pribadiannya, maka hati-hatilah dari kejahatannya.

2. Dunia ini bagai pasar , ada yang beruntung dan ada yang rugi.

3. Barang siapa yang rela dengan apa yang ada pada dirinya, akan banyak yang memusuhinya.

4. Kefakiran itu adalah kesempitan jiwa dan perasaan akan keputus-asaan.

5. Yang lebih baik dari kebaikan adalah pelakunya. Yang lebih ndah dari keindahan adalah pembicaranya, yang lebih unggul dari ilmu adalah pemiliknya, yang lebih jelek dari kejahatan adalah penyebabnya dan yang lebih dahsyat dari bencana adalah pelakunya.

6. Allah SWT tidak boleh disifati kecuali dengan apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya, mana mungkin disifati Dzat yang indra tidak dapat melihat-Nya dan angan-angan tidak sanggup menggapai-Nya. Sedang lintasan fikiran juga tidak dapat membatasi-Nya. Dan penglihatan tidak akan mampu mencangkup-Nya.

7. Barang siapa yang menganggap bahwa dirinya dalam keadaan mujbar ( di paksa oleh takdir ) ketika berbuat dosa, berarti dia telah menisbatkan dosanya kepada Allah dan menganggap Allah telah berbuat zalim saat menyiksanya.

8. Allah SWT mempunyai tempat-tempat yang Ia suka dimintai di tempat itu, maka akan diterima orang yang berdoa di sana.

9. Apabila suatu zaman dimana kebaikan lebih banyak dari kejelekan, maka tidak boleh seseorang menyangka jelek kepada oorang lain, hingga dia tahu akan kebenarannya. Dan apabila suatu zaman kejahatan lebih merajalela di dalamnya daripada kebaikan, maka tidak diperbolehkan seseorang menyangka kebaikan seseorang hingga tahu benar dalam tindak perbuatan baiknya itu.

10. Barang siapa yang meninggal dunia dalam keadaan mencari kebenaran akan di hitung dalam kebaikan walau belum mendapatkannya dengan sempurna, Sesuai firman Allah SWT : “ ….. dan barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian kematian menimpanya, maka sungguh telah tetap pahalanya disisi Allah ….” ( Q : S ; 4 : 100 ).

11. Barang siapa yang takut kepada Allah akan disegani, Dan barang siapa taat kepada-Nya maka dia akan ditaati.

12. Ingatlah kegagalan dari kecerobohan dengan berhati-hati.

13. Dengki itu penghancur segala kebaikan dan menyebabkan kebencian terhadap penyandangnya.

14. Durhaka itu bisa menyebabkan kekurangan ( dalam segala hal ) dan bisa menyebabkan kehinaan.

15. Cercaan itu kunci dari segala kebencian, walau ia lebih ringan dari perasaan dengki.

16. Barang siapa mentaati Allah maka dia tidak akan menghiraukan marahnya makhluk. Dan barang siapa yang memarahkan Allah , akan mengakibatkan bencinya manusia.

17. Sesungguhnya seorang guru dan murid adalah lakasana dua sejoli dalam menggapai kebenaran.

18. Bangun malam itu akan menambah lezatnya tidur, dan lapar itu akan menambah lezatnya hidangan.

19. Ingatlah saat kematianmu di hadapan keluargamu, sedangkan saat itu tidak ada dokter yang bisa mencegahnya dan tidak pula sahabat dapat memberi manfaat bagimu.

20. Barang siapa mengerjakan suatu pekerjaan yang diperintahkan agama, namun tidak yakin akan kebenarannya, maka Allah tidak akan menerima pekerjaan tersebut kecuali jika disertai niat yang baik.

21. Barang siapa yang merasa aman dari azab Allah yang sangat pedih, dia akan berbuat sombong sehingga ketentuan Allah dan perkara-Nya ( kematian ) berlaku atasnya sedang ketentuan-Nya pasti terlaksana.

22. Jika kalian ingin nikmat tidak hilang, maka gunakanlah di jalan yang baik. Dan carilah tambahannya dengan bersyukur atasnya.

23. Barang siapa berada di atas ( bukti ) keterangan dari Tuhannya, akan menganggap ringan segala musibah walau digunting dan digergaji.

24. Allah menjadikan dunia sebagai tempat ujian dan akhirat sebagai tempat balasan. Dan dijadikannya ujian di dunia sebagai sebab dapatnya pahala di akhirat. Serta dijadikannya pahala di akhirat sebagai ganti atas ujian yang di terima di dunia.

25. Jika Allah menginginkan kebaikan dari seseorang, akan diberinya kelapangan untuk menerima suatu teguran.

26. Sesungguhnya seorang bodoh yang ada dalam kebenaran, bisa saja kebodohannya memadamkan cahaya kebenaran.

27. Syair Imam Ali An-Naqi yang ditunjukan kepada Al-Mutawakkil Al-Abbasi “ Mereka mendirikan rumah di puncak-puncak gunung yang dijaga ketat. Oleh para serdadunya yang kuat,namun itu semua sudah tiada berguna lagi. Lalu mereka di giring kekuburan dan disanalah sejelek-jelek tempat baginya. Tiba-tiba seseorang datang dan memanggil-manggil setelah penguburannya. Mana emas-emas serta mahkota-mahkota dan baju-baju indah. Mana wajah-wajah yang mendapat nikmat sangat banyak. Yang dengannya bisa mendapatkan sesuatu tanpa kesulitan dan kerepotan. Dengan jelas kuburan itu mengungkapkan perkabaran keadaan mereka. Itulah wajah-wajah yang kini sedang digerogoti oleh ular-ular yang saling berebutan. Telah lama mereka hidup dan menikmati masa hidupnya. Dan kini setelah mereka merasakan nikmat itu, mereka jadi santapan ular-ular. Lama mereka bina rumah-rumah megah untuk di huni. Namun rumah-rumah itu telah di wariskan untuk keluarganya, setelah kepindahan dirinya. Telah lama mereka menimbun harta dan hanya menyimpannya. Kini harta itu telah di tinggalkan dan jadi rebutan musuh-musuhnya.

28. Kaya itu adalah sedikitnya angan-anganmu serta rela dengan apa-apa yang mencukupimu.

29. Marah kepada orang yang berada dalam lingkup kekuasaanmu adalah kecerobohan.

30. Orang yang bersyukur akan suatu nikmat, akan lebih merasa bahagia dengan rasa syukurnya, dibanding nikmat yang diterimanya. Sebab nikmat itu hanya kesenangan, sedang syukur adalah suatu nikmat yang sekaligus dapat pahala.

31. Manusia di dunia jaya dengan harta dan di akhirat dengan amal.

32. Hati-hatilah dengan perasaan dengki ( hasud ) , sebab ia hanya akan menampakkan aibmu dan tidak berpengaruh pada musuhmu.

33. Hikmah itu tidak berguna bagi orang yang berkarakter jahat.

34. Berdebat dapat merusak persahabatan yang sudah terjalin lama.

35.  Jangan kau minta kejernihan ( hubungan ) dari orang yang kau cemari dirinya. Dan jangan mengharapkan tepatnya janji dari orang yang pernah kau tipu.

36. Orang yang keras kepala hanyalah akan menjadi budak dirinya. Sedang orang yang bodoh akan menjadi budak lisannya.

37. Orang yang mengasihanimu dan memberikan pendapat padamu, maka taatilah dia.

38. Bersenda gurau dalam pembicaraan itu adalah lelucon ( permainan ) orang yang dungu yang hanya di lakukan oleh orang-orang yang bodoh.

39. Musibah ( bencana ) bagi yang sabar hanya terhitung satu. Sedang bagi yang merasa sedih sekali terhitung dua ( musibah atas musibah yang menimpanya serta musibah karena kesedihan yang di deritanya ).

40. Ujub ( bangga dengan dirinya ) merusak pencari ilmu dan akan menyebabkan peremehan dan kejahilan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: